kabargamer.com – Di dunia PUBG Mobile Esports yang isinya para pemain muda berbakat, ada satu nama yang udah nggak bisa dipisahin dari kata “legenda” — Feng “Suk” Shujie. Buat banyak orang di skena Tiongkok, Suk bukan cuma pro player biasa. Dia itu simbol dari kerja keras, konsistensi, dan mental juara yang nggak pernah padam.
Suk bukan tipe pemain yang datang sebentar terus hilang tanpa jejak. Kariernya panjang banget dan penuh momen luar biasa — dari masa kejayaan bareng Four Angry Men (4AM), perjalanan penuh tantangan di The Chosen, sampai kebangkitannya bareng Weibo Gaming. Semuanya membentuk kisah inspiratif tentang semangat pantang menyerah dan jiwa kepemimpinan sejati.
Suk Bersama 4AM

Kisah legendaris Feng Shujie dimulai pas dia gabung dengan Four Angry Men (4AM) — tim ikonik yang jadi bagian penting sejarah esports China. 4AM terkenal dengan gaya mainnya yang super agresif tapi tetap penuh strategi. Di balik aksi gila mereka di medan perang, ada Suk yang jadi otak sekaligus nyawa tim.
Sebagai In-Game Leader (IGL), Suk bukan cuma jago nembak, tapi juga jenius baca situasi. Dia kayak punya “insting dewa” buat tahu ke mana arah zona, di mana posisi musuh, dan kapan harus push. Di bawah komandonya, 4AM jadi bukan sekadar tim kuat — tapi mesin penghancur yang disiplin banget.
Era 2019–2020 bisa dibilang puncak kejayaan mereka. 4AM mendominasi banyak turnamen besar, baik lokal maupun internasional. Salah satu momen paling diingat tentu saat tampil di Peacekeeper Elite Championship (PEC). Di sana, Suk benar-benar nunjukin kelasnya: tenang, fokus, dan selalu bisa bikin keputusan yang bikin timnya unggul.
Gaya main 4AM yang nekat dan cepat itu cerminan kepribadian Suk banget. Dia nggak takut ambil risiko, tapi setiap gerakannya selalu diperhitungkan. Kadang dia jadi yang pertama maju ke area musuh — bukan buat sok jago, tapi buat buka jalan buat timnya. Di luar game, Suk dikenal kalem dan rendah hati, tapi tetap tegas dan berwibawa.
Namun seperti semua tim besar, masa keemasan nggak bisa bertahan selamanya. Ada dinamika internal, tekanan kompetitif, dan perubahan roster yang bikin 4AM goyah. Akhirnya, Suk pun memutuskan untuk menutup babak emasnya di 4AM dan memulai lembaran baru.
Pindah Menuju The Chosen

Waktu Feng Shujie atau Suk memutuskan pindah ke The Chosen, banyak orang kaget. “Ngapain legenda kayak dia gabung tim yang masih berkembang?” begitu kira-kira komentar netizen waktu itu. Tapi buat Suk, keputusan itu bukan langkah mundur — justru tantangan baru.
Buat dia, zona nyaman itu musuh terbesar. Suk lihat potensi besar di The Chosen — tim muda yang butuh arahan dan pengalaman. Dia datang bukan cuma sebagai pemain, tapi juga mentor dan pembangun tim. Suk jadi semacam “arsitek strategi” yang bantu bentuk karakter dan mental juara buat rekan-rekan barunya.
Adaptasi jelas nggak gampang. Dia harus menyesuaikan gaya main, membangun chemistry dengan anak-anak muda, dan nyusun sistem baru. Tapi dengan sabar, Suk berhasil pelan-pelan ngangkat performa The Chosen. Tim itu mulai sering nongol di papan atas Peacekeeper Elite League (PEL) dan mulai disegani tim-tim besar.
Walau masa-masa di The Chosen nggak seheboh waktu bareng 4AM, justru di sinilah jiwa legendaris Suk benar-benar kelihatan. Dia buktiin kalau nilai seorang pemain bukan cuma dari trofi, tapi dari seberapa besar pengaruhnya buat orang lain. Banyak pemain muda yang berkembang pesat karena bimbingan Suk. Ini bukti nyata kalau warisan legenda nggak cuma berupa gelar, tapi juga ilmu dan inspirasi.
Berjuang Bersama Weibo Gaming
Setelah sukses jadi mentor di The Chosen, Suk lanjut ke bab berikutnya — gabung ke Weibo Gaming, salah satu organisasi esports raksasa di China. Langkah ini langsung bikin heboh komunitas karena dianggap sebagai “comeback of the legend”.
Di Weibo Gaming, Suk dapet tempat yang pas banget buat nunjukin kemampuan terbaiknya. Tim ini punya dukungan profesional dari pelatih, analis data, sampai manajemen top. Kombinasi pengalaman Suk dan sistem modern Weibo bikin mereka jadi tim yang ditakuti di setiap turnamen.
Dan hasilnya? Nggak main-main. Weibo Gaming langsung jadi ancaman di berbagai ajang besar. Berdasarkan data dari Liquipedia dan Esports Charts, sampai tahun 2025, Suk masih aktif main di level tertinggi. Total pendapatan kariernya bahkan nyentuh USD 760.000+ dari lebih dari 30 turnamen! Itu bikin dia masuk jajaran pemain PUBG Mobile dengan penghasilan tertinggi di dunia.
Walaupun sekarang banyak pemain muda bermunculan, performa Suk masih stabil dan tajam. Di turnamen besar seperti PEL Spring dan Global Championship Qualifiers, dia sering jadi pemain paling berpengaruh. Pengalamannya bikin dia selalu tahu kapan harus tenang, kapan harus push, dan gimana cara balikkan keadaan di bawah tekanan.
Buat Weibo Gaming, Suk bukan cuma bintang — dia pilar utama dan guru besar buat para pemain muda. Banyak dari mereka yang bilang kalau belajar disiplin dan strategi dari Suk itu priceless banget. Weibo Gaming udah kayak rumah baru buat Suk, tempat di mana dia terus menulis sejarah dan menularkan mental juaranya.
Kesimpulan
Perjalanan Feng “Suk” Shujie adalah cerita keren tentang evolusi, semangat, dan konsistensi di dunia esports yang super kompetitif. Dari kejayaan bareng 4AM, perjuangan ngebangun The Chosen, sampai comeback menggila bersama Weibo Gaming — semuanya menunjukkan satu hal: Suk nggak pernah berhenti berjuang.
Dia contoh nyata pemain sejati: disiplin, cerdas, dan selalu ingin belajar. Di era di mana banyak pemain cepat naik dan cepat hilang, Suk tetap relevan karena dia punya hal yang lebih dari sekadar mekanik — yaitu pengalaman, insting tajam, dan kepemimpinan luar biasa.
Buat komunitas PUBG Mobile China, Suk bukan cuma pemain hebat, tapi juga ikon ketekunan. Dan buat dunia esports global, dia bukti bahwa karier panjang bisa didapat bukan karena bakat semata, tapi karena kerja keras dan adaptasi tanpa henti.
Sekarang, setelah lebih dari lima tahun beraksi di level tertinggi, Suk masih jadi sosok yang disegani. Dia mungkin nggak selalu menang di setiap turnamen, tapi pengaruh dan inspirasinya tetap hidup di hati banyak pemain.
Seperti pepatah bilang:
“Legenda itu bukan tentang berapa kali menang — tapi tentang bagaimana mereka terus bertarung saat dunia berubah.”