kabargamer – Di dunia Mobile Legends: Bang Bang, pemain muda muncul cepat, bersinar sebentar, lalu hilang. Tapi ada beberapa nama yang nggak cuma sekadar lewat, mereka bertahan, konsisten, dan jadi jiwa tim. Salah satunya adalah Gilang “Sanz”, midlaner andalan ONIC Esports. Dia bukan cuma pemain, tapi semacam arsitek kemenangan, penenang di tengah badai, dan eksekutor dingin saat momen genting.
MPL Indonesia Season 16 jadi bukti nyata dominasinya. Sanz nggak cuma main, dia memimpin permainan. Jadi MVP, jadi motor tim yang nggak kenal lelah, dan membawa ONIC meraih gelar yang makin mengukuhkan mereka sebagai kekuatan utama. Tapi perjalanan ke puncak nggak instan. Ini soal bakat yang diasah, strategi yang cerdas, dan mental baja.
Dari Victim Esports hingga ONIC: Transformasi Seorang Prodigy

Sebelum jersey kuning ONIC melekat di tubuhnya dan namanya diteriakkan ribuan fans, Sanz adalah pemuda berbakat di bawah bendera Victim Esports di liga development, MDL.
Awal Munculnya Sang Prodigy
Di Victim Esports, Sanz seperti permata yang mulai bersinar. Waktu itu dia main sebagai jungler, tapi bukan jungler biasa. Lihat cara dia menguasai map, timing-nya pas banget buat ambil objective, dan mekaniknya bikin lawan kelabakan. Puncaknya? Victim Esports juara MDL Season 1—dan Sanz jadi MVP musim itu.
Saat itulah komunitas mulai heboh. Analis dan fans menyebutnya “anak ajaib” atau “prodigy”. Kematangan Sanz dalam membaca permainan bikin semua orang terpana. Setiap kali dia main, terasa janji masa depan yang gemilang.
Dilirik dan Direkrut ONIC Esports
ONIC nggak mau melewatkan bakat secemerlang ini. Pertengahan 2020, Sanz resmi bergabung dengan Landak Kuning. Awalnya dia masih jungler, tapi meta berubah, tim butuh jenderal di midlane. Sanz pun dipindahkan ke midlane—titik balik yang krusial. Banyak pemain gagal beradaptasi dengan role baru, tapi Sanz? Dia justru meledak.
Adaptasi yang Cepat dan Konsisten
Transisi dari jungler ke midlaner jadi masterclass adaptasi. Dia nggak cuma survive, tapi berkembang pesat. Fokusnya nggak cuma pada monster dan objective, tapi seluruh peta. Setiap rotasi, pergerakan lawan, dianalisis habis. Pindah role bukan penurunan karier, tapi evolusi yang bikin Sanz jadi salah satu midlaner paling disegani.
Dominasi di Midlane: Gaya Bermain, Hero Signature, dan Kekuatan Mekanik
Sebagai midlaner, Sanz punya paket lengkap: kecerdasan taktis + mekanik mematikan.
1. Gaya Bermain yang Adaptif dan Visioner
Sanz bukan sekadar mesin damage. Dia otak tim. Bisa ngerasain alur permainan, prediksi gerakan lawan, dan ambil keputusan secepat kilat. Hasilnya:
- Kontrol tempo permainan dari midlane, memperlambat atau mempercepat sesuai kebutuhan.
- Rotasi ke sidelane tepat waktu, bikin lawan kaget.
- Atur posisi tim saat teamfight, pastikan semuanya ada di spot strategis.
- Fleksibel: kadang agresif, kadang sabar menunggu momen terbaik.
Kelenturan ini bikin dia sulit dibaca lawan.
2. Hero Signature yang Mematikan
Sanz mahir banget dengan mage sulit:
- Yve: Zoning-nya bikin lawan frustrasi.
- Valentina: Bisa nyuri ultimate lawan dan balik ke tim, kadang jadi game changer.
- Novaria: Skillshot-nya presisi parah.
- Lylia & Lunox: Outplay yang memukau.
- Harith: Saat hero ini balik meta, sentuhan Sanz bikin dia menakutkan.
3. Kekuatan Mekanik dan Akurasi Skill
- Timing ultimate selalu tepat, bisa ubah jalannya teamfight.
- Positioning aman, jarang mati tapi damage maksimal.
- Efisiensi battle spell seperti Flicker.
- Mental kuat, tetap fokus meski tim tertinggal.
- Mechanics konsisten, nggak goyah di late game.
4. Faktor “Ketentraman” yang Dibawa Sanz
Ada aura tenang dari Sanz saat main. Di momen genting, tim lain panik, tapi ONIC tetap rapi karena ada Sanz di midlane. Dia penenang, simbol stabilitas tim.
MVP, Gelar Juara, dan Misi Besar Menuju M7

Prestasi Sanz berbicara sendiri.
1. Pengoleksi MVP Grand Final
Menjadi MVP di grand final adalah mimpi semua pemain. Sanz udah beberapa kali ngerasain, termasuk MPL Season 15. Bukti dia bangkit di sorotan dan tekanan tinggi.
2. Kunci Kemenangan ONIC di MPL Season 16
MPL Season 16? Dominasi ONIC nggak lepas dari Sanz. Dia mesin konsisten, kontrol map, hero pool dalam, fleksibel jadi playmaker atau damage dealer. Musim ini bukti Sanz tetap pilar tak tergantikan.
3. Misi Besar Menuju M7 World Championship
ONIC ke M7, misi jelas: merebut mahkota Juara Dunia. Sanz ingin tunjukin Indonesia bisa di puncak dunia MLBB. Pengalaman pahit kekalahan sebelumnya jadi bahan bakar. Kali ini, mereka datang bukan cuma peserta, tapi calon juara.
Kesimpulan
ONIC Sanz bukan sekadar pemain MLBB profesional. Dia institusi berjalan tentang konsistensi, profesionalisme, dan evolusi. Dari Victim Esports sampai jadi penguasa midlane Landak Kuning, perjalanannya epik banget.
Di midlane, dia penguasa bijaksana dan mematikan. Hero andalannya bikin lawan mimpi buruk, gaya bermain cerdas + insting tajam, dan pengaruhnya pada ONIC? Pasti. Dengan gelar MVP & juara MPL, Sanz sudah menorehkan namanya di antara yang terbaik sepanjang masa.
M7 World Championship? Sorotan global lagi-lagi bakal tertuju padanya. Pertanyaannya bukan apakah Sanz bisa tampil oke, tapi seberapa gemilang dia bakal bawa ONIC. Dari sejarah, satu hal jelas: Gilang “Sanz” siap tampil, seperti biasa, jadi Sang Penguasa Midlane Landak Kuning.