kabargamer – Dalam dunia esports Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), kita sering cuma melihat kerennya para pemain di panggung—sorak-sorai, spotlight, dan aksi mekanik yang bikin melongo. Tapi di balik semua itu, ada otak-otak brilian yang nggak kelihatan di kamera. Salah satu nama yang paling nge-blend sama kata “jenius strategi” adalah Coach Nafari. Dia bukan sekadar pelatih, tapi sudah kayak institusi berjalan. Julukan “Sepuh MLBB” bukan candaan; itu penghargaan buat seseorang yang sudah bertahun-tahun ngasih ilmu, analisis tajam, dan pandangan yang bikin komunitas MLBB Indonesia makin melek strategi.
Di artikel ini, kita bakal ngobrolin perjalanan panjang sang “Sepuh”—dari awal karier, gaya melatihnya, sampai gimana namanya bisa makin meledak beberapa tahun terakhir.
Awal Memulai Karir

Sebelum dikenal sebagai “sepuh” yang omongannya selalu ditunggu, Nafari dulunya cuma seorang pemimpi—kayak kita-kita yang climb rank sambil berharap suatu hari bisa masuk scene pro. Perjalanannya bukan dimulai dari panggung megah, tapi dari grind rank dan turnamen kecil yang penuh drama. Kebayang kan, Nafari muda yang penuh idealisme dan ambisi ngejar mimpi jadi pro player?
Meski kariernya sebagai pemain nggak sampai puncak, justru dari situlah titik baliknya dimulai. Pengalaman jadi pemain kompetitif membuka semua pintu pelajaran: mulai dari mekanik hero, tekanan saat match krusial, sampai dinamika tim yang kadang lebih rumit dari sinetron.
Dari situ terlihat kalau bakat terpendamnya bukan cuma soal main game, tapi cara dia membedah game—mencari pola, membaca patch, dan menemukan hal-hal kecil yang sering luput dari mata pemain lain. Sementara sebagian orang sibuk asah refleks, Nafari malah betah ngulik patch notes kayak baca komik favorit.
Gaya bicaranya yang blak-blakan, tajam, dan kadang nyelekit bikin namanya makin dikenal. Dari awalnya cuma jadi “tempat curhat strategi” tim tier 2 dan 3, reputasinya tumbuh lewat word of mouth. Di sinilah image “sepuh” itu lahir—bukan karena umur, tapi karena wawasannya yang dalem dan caranya ngasih kebenaran, meski pahit.
Buat banyak pemain muda yang butuh arah, dia jadi role model yang nggak minta dipanggil guru, tapi ilmunya tetap nempel.
Gaya Kepelatihan
Waktu akhirnya jadi pelatih resmi, Nafari datang bukan cuma bawa clipboard atau time schedule latihan; dia datang bawa filosofi lengkap.
Analisis Meta yang Mendalam
Buat Nafari, meta itu puzzle hidup. Bukan sesuatu yang cuma diikuti—tapi dibaca, ditebak, dan diprediksi. Bahkan sebelum patch rilis, dia sering sudah punya gambaran hero apa yang bakal OP, emblem apa yang paling ngena, sampai gaya main apa yang bakal jadi arus utama. Nggak heran dia sering dianggap “perpustakaan meta berjalan” se-Asia Tenggara.
Pendekatan Makro yang Terstruktur
Kalau ditanya apa kunci tim kuat, jawabannya sudah pasti: makro. Buat sebagian orang, makro itu membosankan—nggak seglamour Maniac atau Savage. Tapi buat Nafari, kecantikan game itu ada di:
- Ngatur minion dengan sempurna
- Vision yang rapi
- Kontrol objektif yang disiplin
- Rotasi yang bisa bikin lawan bingung
Baginya, tim dengan makro kuat itu kayak rumah fondasi beton: susah roboh meski kena gempuran berkali-kali.
Disiplin dan Komunikasi yang Jelas
Di ruang latihan, Nafari dikenal tegas. Dia percaya kalau di tengah chaos match, komunikasi yang jelas itu penyelamat. Prinsipnya simpel: “Komunikasi buruk lebih bahaya daripada mechanical error.” Jadi tiap info harus disampaikan jelas, cepat, dan nggak multitafsir.
Fokus pada Mental dan Konsistensi
Buat Nafari, skill mekanik doang nggak cukup. Kalau mental ambyar, gameplay juga ikutan ambyar. Makanya dia sering masukkan latihan mental, fokus, dan konsistensi ke dalam sesi latihan.
Tidak Takut Mengkritik
Nah, ini dia sisi paling iconic dari seorang Coach Nafari: ngomong apa adanya. Kalau draft-nya jelek, dia bilang. Kalau rotasinya aneh, dia tegur. Dia bukan haters—tapi justru peduli. Banyak orang bilang dia keras, tapi sebagian besar komunitas justru suka karena kejujurannya bikin ekosistem MLBB tetap sehat dan realistis.
Nama Nafari Kembali Meroket

Beberapa tahun terakhir, nama Nafari kembali naik daun. Bukan kebetulan—ada beberapa alasan kuat di balik popularitasnya.
Konten Analisis yang Makin Berkualitas
Di tengah konten MLBB yang didominasi highlight dan lifestyle, Nafari muncul sebagai “kelas kuliah gratis”. Analisisnya di YouTube dan media sosial sering bikin penonton merasa IQ MLBB naik dua level. Breakdown draft, baca meta, prediksi gameplay—semua dikemas detail tapi tetap gampang dipahami.
Terlibat dengan Tim Profesional
Walaupun kadang terkesan misterius, banyak rumor kalau Nafari ikut bantu beberapa tim pro—baik sebagai konsultan, analis, atau penasihat draft. Konfirmasi dari pemain dan manajer bikin reputasinya makin kokoh.
Viral Karena Kejujuran
Setiap kali Coach Nafari nge-tweet atau komentar soal match, hampir pasti viral. Kritiknya pedas, tapi selalu pakai argumen kuat. Dan… seringnya terbukti. Komunitas pun makin yakin: dia bukan cuma “galak”, tapi tahu apa yang dia omongkan.
Pengaruh Se-Asia Tenggara
Analisisnya sering diterjemahkan ke bahasa Malaysia, Filipina, bahkan Singapura. Banyak yang menganggap dia salah satu pembaca meta terbaik di kawasan Asia Tenggara.
Desakan Publik agar Masuk MPL
Setiap ada tim MPL yang rombak roster atau cari pelatih baru, nama Nafari hampir selalu masuk list harapan fans. Banyak yang penasaran gimana kalau filosofi dan ilmunya diuji langsung di panggung MPL.
Kesimpulan
Coach Nafari adalah bukti bahwa pengaruh besar nggak harus datang dari orang yang tampil di spotlight. Perjalanannya dari pemain amatir, jadi analis komunitas, lalu menjadi sosok yang seluruh ekosistem MLBB tunggu opininya, adalah bukti bahwa seseorang bisa menemukan panggungnya sendiri.
Julukan “Sepuh” bukan sekadar candaan—itu penghargaan atas pengetahuan, kontribusi, dan konsistensinya.
Dari Nafari kita belajar bahwa:
- Analisis mendalam bisa lebih penting dari refleks cepat.
- Meta yang dibaca dengan benar bisa bikin tim tanpa mekanik tinggi tetap menang.
- Kejujuran pedas itu penting buat perkembangan esports.
Selama MLBB masih update, selama meta masih berubah, dan selama komunitas masih butuh suara jujur yang berbobot, “Suara Sepuh” bernama Nafari ini bakal terus relevan—dan terus jadi rujukan.