Edwin Chia: Sosok di Balik Konsistensi Bigetron

Photo of author

By Yudi S

kabargamer – Di dunia esports Indonesia yang super cepat berubah, konsistensi itu kayak harta karun—langka banget! Banyak tim yang sempat bersinar terang tapi cuma sebentar, lalu hilang begitu aja. Tapi satu nama terus jadi simbol kejayaan dan keteguhan: Bigetron Esports.
Dan di balik semua kesuksesan besar itu, ada sosok yang mungkin nggak sering muncul di depan kamera — Edwin Chia, atau yang lebih dikenal dengan nama BTR Starlest.

Buat banyak fans, Starlest mungkin cuma dianggap “bos besar” di balik layar. Tapi buat para pemain dan orang dalam industri, dia itu jantung dari Bigetron. Dia bukan tipe CEO yang cuma tanda tangan dokumen dan duduk manis di kursi empuk. Nope. Starlest itu pemimpin yang benar-benar ngerti denyut nadi timnya, tahu kapan harus gaspol, dan nggak takut ambil risiko besar demi masa depan timnya.

Perjalanan Awal BTR di PUBG Mobile

Kisah ini mulai di akhir tahun 2018, saat PUBG Mobile lagi naik daun dan mulai dikenal sebagai game kompetitif yang serius. Di saat banyak tim masih ragu buat terjun ke scene-nya, Starlest justru udah punya visi jauh ke depan. Dia yakin kalau game ini bakal jadi ladang emas esports masa depan. Dari situlah lahir divisi legendaris Bigetron Red Aliens (BTR RA).

Awal perjalanannya? Nggak gampang, bro! BTR RA sempat ikut turnamen kecil, kalah di sana-sini, dan terus ngulik formula kemenangan mereka. Tim lain mungkin udah mundur di titik itu, tapi Starlest punya prinsip kuat: “Bangun pondasi dulu, baru kejar puncak.”

Yang bikin dia beda dari bos lain adalah kesabarannya. Di tengah dunia esports yang serba instan, dia malah milih jalur panjang — membangun sistem profesional, kultur kompetitif, dan pastinya mempercayai proses. Buat Starlest, bukan cuma soal cari pemain jago, tapi bikin lingkungan di mana pemain bisa tumbuh jadi bintang dunia.

Mencetak Berbagai Sejarah dengan Menjadi Juara Dunia

Momen epic terjadi di tahun 2019. Bigetron Red Aliens berhasil menjuarai PUBG Mobile Club Open (PMCO) Global Finals di Malaysia! Kemenangan ini bukan cuma soal trofi, tapi jadi bukti nyata kalau tim Indonesia bisa bersaing di level dunia.

Di balik pencapaian itu, tentu ada tangan dingin Starlest. Dia nggak main-main dalam membangun tim: ada pelatih profesional, analis performa, bahkan manajemen logistik yang rapi banget. Semua dibuat biar para pemain fokus 100% di permainan.

Setelah jadi juara dunia, BTR nggak berhenti di situ. Di bawah komando Starlest, mereka malah makin menggila — dominasi PMPL Indonesia, sapu bersih SEA Finals, dan bikin dinasti yang bikin tim lain iri berat. Nama-nama kayak Ryzen, Luxxy, Zuxxy, dan Microboy jadi ikon bukan cuma karena skill individu mereka, tapi karena sistem yang dibangun Starlest bikin mereka bersinar bareng.

Satu hal yang selalu ditekankan Starlest adalah mentalitas. Dia percaya, “Skill itu penting, tapi mental juara lebih penting.” Karena tanpa disiplin dan mindset yang kuat, tim sehebat apapun bakal tumbang di tekanan besar. Filosofi itu yang bikin BTR nggak cuma ditakuti lawan, tapi juga dihormati seluruh scene.

Terus Melakukan Investasi untuk Divisi PUBG Mobile

Seiring waktu, kompetisi PUBG Mobile makin panas. Tim-tim baru bermunculan, strategi makin beragam. Tapi Starlest? Tetap tenang, bro. Ini justru momen di mana visi jangka panjangnya diuji.

Setelah hasil di PMGC 2022 menurun, Starlest bikin langkah berani yang bikin fans tercengang: rebuild total. Lahirlah Bigetron Red Villains (BTR RV) — bukan sekadar ganti nama, tapi total transformasi. Dia sadar, kalau sesuatu nggak jalan, ya harus berani mulai dari awal lagi.

Langkah ini nggak main-main. Datangnya Federales dari Filipina jadi gebrakan besar — tanda kalau BTR udah berpikir global. Lalu, Starlest menggandeng Coach Kent yang punya visi kuat, membentuk tim baru berisi campuran pengalaman dan darah muda.

Nama-nama kayak Redface, Reizy, dan Vexxy mungkin dulu belum terlalu dikenal, tapi di tangan Starlest dan Coach Kent, mereka tumbuh jadi monster di arena. Redface yang super agresif, Reizy dengan insting dan positioning brilian, plus Vexxy yang jadi otak komunikasi tim — semuanya nyatu jadi kekuatan solid yang bikin lawan kewalahan.

Nggak cuma itu, Starlest juga sadar kalau esports modern itu nggak bisa lepas dari data dan analisis. Maka dia perkuat tim analis dengan orang-orang berpengalaman internasional. Di sisi lain, branding BTR makin keren dengan kolaborasi kreatif dan konten digital yang menarik banget buat fans — semuanya masih di bawah pengawasan sang bos besar.

Dan langkah paling gila? Ekspansi ke Brasil! Yup, BTR bikin divisi PUBG Mobile di sana. Ini bukti kalau visi Starlest nggak cuma sebatas Asia Tenggara. Dia pengen Bigetron benar-benar jadi organisasi esports global — langkah yang belum pernah dicoba tim Indonesia lain!

Kesimpulan

Dari 2018 sampai 2025, perjalanan Edwin “Starlest” Chia bareng Bigetron udah buktiin satu hal penting: konsistensi itu bukan kebetulan. Itu hasil dari visi yang jelas, kerja keras tanpa henti, dan keberanian ambil keputusan besar.
Di tangannya, Bigetron bukan cuma tim esports — tapi udah jadi simbol profesionalisme dan inovasi di scene Indonesia.

Starlest selalu memandang esports bukan cuma sebagai hobi atau tren sesaat. Buat dia, ini bisnis serius yang perlu dikelola dengan perhitungan matang. Setiap langkahnya — mulai dari rekrutmen, investasi, sampai perubahan strategi — semuanya punya tujuan jangka panjang.
Dia nggak bangun tim buat satu musim, tapi buat warisan yang bakal dikenang bertahun-tahun ke depan.

Sekarang, di tahun 2025, saat banyak organisasi esports lain masih cari arah, Bigetron tetap berdiri kokoh di puncak. Dan di balik semua kejayaan itu, nama Edwin “BTR Starlest” Chia akan selalu dikenang sebagai sosok visioner yang bikin mimpi jadi nyata — dan nyata jadi legenda.

Leave a Comment